Wednesday, February 3, 2010

Empat Dari Dua Puluh

Beberapa Prinsip Dalam Islam

Prinsip 1 "Islam adalah system menyeluruh yang mencakup seluruh segi kehidupan. Maka ia adalah Negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan , kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih."

Dalam prinsip tersebut disebutkan bahwa islam adalah agama yang sempurna. Artinya islam tidak hanya membahas atau menjelaskan tentang ibadah ritual saja tetapi juga membahas permasalahan-permasalahan sosial atau aspek-aspek kehidupan lainnya seperti hukum, ekonomi, politik dan lain-lain. Sehingga adalah suatu kewajiban bagi kita untuk tidak meniggalkan islam ketika kita berbicara, mempelajari atau menjelaskan ilmu-ilmu lain selain ilmu agama. Serta ketika menerapkan suatu kebiasaan yang sifatnya sosial atau umum harus selalu diiringi dengan unsur-unsur keislaman. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan alam semesta sudah sijelaskan dalam islam baik itu melalui kitab Allah yaitu Al-Qura maupun hadits rasul saw.
Contoh konkret kesempurnaan islam adalah terdapatnya ayat-ayat yang menjelaskan tentang tata cara atau hukum dalam perniagaan.

Prinsip 2 "Al-Quranul Karim dan Sunah Rasul yang suci adalah rujukan setiap muslim untuk mengenal dan memahami hukum-hukum islam. Al-Quran harus dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab, tanpa takkaluf (sikap memaksakan diri dalam melaksanakan suatu ayat hingga melampaui arti yang sewajarnya) dan sikap ta’assuf (secara serampangan). Sedangkan sunah yang suci harus dipahami melalui para ahli hadits yang terpercaya."

Untuk mengenal kesempurnaan islam dan mengenal islam secara mendalam dapat kita lakukan dengan berpedoman pada Al-Quran dan Sunah. Karena penjelasan tentang hukum-hukum atau tata cara yang mengatur semua aspek kehidupan manusia terdapat dalam Al-Quran dan sunah. Dalam mempelajari dan memahami Al-Quran atau sunah harus sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab, hal tersebut dikarenakan Al-Quran maupun sunah di sampaikan dalam redaksi bahasa arab. Tapi jika hal tesebut tidak dilakukan akan terjadi kesalahan dalam memahami ayat-ayat Al-Quran maupun Sunah yangakan berdamppak buruj bagi orang yang salah dalam memahaminya tersebut.
Cntoh konkretnya adalah dalam salah satu ayat yang berbunyi “..Dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Q.S Al-Maidah : 55). Ayat tersebut bila salah dipahami akan terdapat suatu kesimpulan bahwa pelaksanaan zakat dapat dilakukan ketika kita sedang ruku atau sujud dalam shalat.


Prinsip 3 “Keimanan yang murni, ibadah yang benar, dan mujahadah (bersungguh-sungguh dalam beribadah) adalah cahaya dan kelezatan yang Allah curahkan pada hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sementara ilham, lintassan pikiran, kasyf (ketersingkapan rahasia ghaib), dan mimpi-mimpi, itu semua bukan termasuk hukum syariat islam. Maka semua itu tidak perlu diperhatikan kecuali bila tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teks-teksnya.”

Dalam prisip ketiga ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dengan memiliki hal-hal diatas kita dapat meraskan nikmat dan lezatnya iman. Karena dengan hal tersebut kita dapat mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain serta kita dapat meraskan kebahagiaan hidup didunia maupun di akhirat.
Sedangkan ilham, mimpi, lintasan pikiran jang terlalu dipercaya karena hal tersebut tidak selalu benar.
Contoh konkretnya orang yang memiliki keimanan yang murni akan selalu merasakan ketenraman walupun kehidupannya bsa dikatakan pas-pasan dan dia akan selalu bersyukur dan tidak menyombongkan diri ketika memperoleh rezeki.


Prinsip 4: "Jimat, jampi (ruqyah), guna-guna, peramalan, perdukunan, mengaku tahu hal-hal ghaib, dan semisalnya adalah kemungkaran yang wajib di berantas. Kecuali jimat yang berasal dari Al-Quran atau jampi yang diriwayatkan dari Rasulullah saw."

Seperti dijelaskan dalam prinsip diatas bahwa jimat, jampi (ruqyah), guna-guna, peramalan, perdukunan, mengaku tahu hal-hal ghaib, dan semisalnya adalah kemungkaran yang wajib di berantas. Karena hal-hal tersebut melanggar sesuatu yang teah ditetapkan oleh Allah dan tidak berasal dari-Nya melainkan dari syetan la’natullah. Dan dapat menyesatkan pemakai atau penggunanya sehingga menjerumuskannya untuk tidak mempercayai ajaran yang dijelaskan dalam Al-Quran dan disampaikan oleh rasulullah. Kecuali yang bersumber dari Al-Quran atau sunah rasul saw.
Contoh konkret adalah dizaman sekarang banyak paranormal yang mengaku dapat meramalkan kehidupan sesorang melalui golongan bintang kelahirannya (astrologi). Dan banyak yang mempercayainya.


Monday, January 25, 2010

Profil Lulusan Tarbiyah

Sesungguhnya da'wah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya. Kita mengakui, hal positif dan negatif dari manhaj teoritisnya yang dapat diambil pada buku-buku yang sudah disebarluaskan, bagaimana tingkat ketsiqahan anggotanya terhadap manhaj. Diantaranya adalah menganalisa suatu masalah, sebagaimana terlihat dalam sikap dan tindakan mereka.

Namun tindakan pribadi (fardi) juga berbagai pemyataan spontan atas berbagai masalah, hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan 'institusi/harakah secara umum. Sebab memang demikianlah tabi'at suatu pertumbuhan, yang juga erat dengan situasi kondusif yang mendukung prilaku tersebut. Di sini, akan dipaparkan contoh-contoh pribadi yang hendak dihasilkan melalui proses tarbiyah dan arahan.
Semua ini tentu saja terwujud setelah taufiq dari Allah swt.

Seorang Mujahid yang Menjadikan Da'wah sebagai Obsesinya

Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang dalam kondisi mempersiapkan dan membekali diri, berpikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berpikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam kondisi siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.


Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di balik perjuangan.
Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."

Da’i Yang Bergerak Karena Allah swt.

Adalah da'i yang berlari memohon syahadah kepada Allah swt. di saat melakukan tugas da'wah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi radhiallahu'anhu yang menda'wahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:
"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)

Ketika ia menyatakan diri masuk Islam, sekaligus menda'wahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.
Da’iyah yang Memiliki Semangat Tinggi

Anggota harakah Ikwan, harus mempunyai semangat tinggi sebagaimana semangat al-Aslami adhiallahu ‘anhu yang pernah diceritakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: “Bila anda ingin melihat tingkatan semangat, lihatlah semangat Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami radhiallahu'anhu. Rasul saw. berkata: "Mintalah kepadaku." Ka'b mengatakan: "Aku ingin menjadi pendampingmu di.surga." Sementara orang lain ada yang meminta makanan dan pakaian.


Da'i yang Memegang Teguh Janjinya

Seorang akh, dibina untuk mengerti dan melaksanakan sikap shidiq, sebagai sikap mulia para sahabat ridhwanullahi'alaihim.

Seperti kisah Anas bin Nadhr radhiallahu'anhu yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Bahwa Anas bin Nadhr, absen dalam peperangan Badar. Beliau mengatakan:
"Aku tidak ikut dalam perang pertama yang disaksikan Rasulullah saw. Bila Rasulullah kembali berperang melawan kaum Quraisy setelah Badar, niscaya Allah 'Azza wa Jalla akan memperlihatkan apa yang akan kuperbuat."

Di saat perang Uhud, ummat Islam menderita kekalahan. Seseorang berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz radhiallahu'anhu: "Wahai Sa'ad hendak kemana anda?" "Saya ingin menghampiri aroma surga di balik Uhud.' Sa'ad berangkat hingga syahid. Di tubuhnya terdapat lebih dari delapan puluh luka akibat pukulan pedang, tombak dan anak panah. Hingga jasadnya tak dikenal lagi oleh saudari perempuannya, kecuali melalui pakaiannya.

Lalu turunlah firman Allah swt. : “Di antara orang-orang mu'min ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah janjinya.” (QS. aI-Ahzab: 23)
Demikianlah seharusnya sikap teguh terhadap janji.


Seimbang dalam Semua Kondisi

Ikhwan membina anggotanya agar memiliki sikap berani, namun tidak mengabaikan sikap hati-hati, jauh dari sikap sembrono dan emosional. Mungkin sedikit manusia yang. dapat seimbang melakukan hal ini. Seorang yang dibiasakan bersikap pemberani, selalu berusaha memutuskan seluruh rintangan yang mengikatnya.

Mereka juga memiliki keta'atan tinggi yang diikat oleh kesadaran syar'i yang cermat, jelas, tidak serampangan dan bukan sikap mengikut buta.

Di sisi lain, anggota Ikhwan selalu memelihara potensi yang Allah anugerahkan pada dirinya. Seorang Ikhwan secara khusus mengerahkan semua kekuatannnya kepada seluruh yang mendatangkan manfaat kepada da'wah. Penyaluran potensi itu tidak dibiarkan tanpa kendali, tanpa arah dan tujuan yang jelas. Ikhwan senantiasa mengiringinya dengan langkah takhtith (perencanaan) matang.

Da'i yang komitmen terhadap petunjuk nabawi

Seorang da'i yang berjalan di atas jalur syari'at, tunduk kepada sunnah, menjauh dari prilaku bid'ah dan semua yang tidak diperintahkan .oleh Rasulullah saw. Tindak tanduknya, sebagaimana petunjuk hadits Nabawi. la mengambil agamanya dari mata air Islam yang jernih dan minum dari sumber keimanan.
Bila ditanya tentang prinsipnya, ia mengatakan: “Ittiba’”. Bila ditanya tentang pakaiannya, ia mengatakan: "Taqwa." Bila ditanya tentang maksud serta tujuannya, ia mengatakan: "Ridha Allah." Dan bila ditanya di mana ia menghabiskan waktunya di waktu pagi hingga petang, ia menjawab: "Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang." (Qs. an-Nur: 36)

Dan di medan da’wah serta mengembalikan manusia ke jalan al-haq. Bila ditanya tentang nasabnya, ia mengatakan:
Orang tuaku adalah Islam. Tidak ada orang tuaku selainnya. Sementara orang bangga dengan keturunan Qais atau Tamim


Da’i yang Sabar

Ikhwan terbina dengan akhlaq sabar, sehingga di awal perj alanannya, salah seorang Ikhwan telah mengetahui apa yang diucapkan Ibnul Qayyim rahimahullah: "Sesungguhnya sikap untuk lebih mengutamakan ridha Allah, pasti akan berhadapan dengan permusuhan manusia, siksa, bahkan upaya mereka untuk membunuhnya. Yang demikian adalah sunnatullah di antara makhluk-Nya.
Bila tidak demikian, lalu apa dosa para Nabi dan Rasul yang memerintahkan keadilan di antara manusia dan menegakkan agama Allah ?" Maka barangsiapa yang lebih mengutamakan keridhaan Allah, niscaya ia akan memperoleh permusuhan dari orang alim yang jahat, manusia yang menyimpang, yang bodoh, pelaku bid'ah, yang banyak berdosa, dan penguasa bathil.

Barangsiapa berpegang teguh pada Islam secara sempurna, ia tak dapat digoyahkan oleh manusia bahkan gunung sekalipun. Tak dapat dihalangi oleh berbagai ujian., kekerasan dan rasa takut.
Mereka mengetahui bahwa kesabaran dapat dilakukan melalui dua perkara: tarbiyah atas sikap zuhud di dunia dan zuhud terhadap pujian. Tidaklah seseorang itu melemah, atau terlambat, dalam jalan ini, kecuali karena kecintaannya yang demikian besar pada kehidupan, kekekalan, serta kecintaannya pada pujian manusia dan upaya menjauhi kecaman mereka.

Jalan ini, bagi mereka, merupakan jalan yang pasti berhadapan dengan pendustaaan, pengusiran, dan siksaan, seperti ungkapan Ibnul Qayyim al-Jauzi rahimahullah: "Seseorang yang berlalu menuju Allah swt. adalah sebagai uswah. Dan itulah predikat yang sangat mulia. Seorang yang berakal cerdas rela beruswah kepada para Rasulullah, para Anbiya, Aulia, dan orang-orang yang dipilih Allah dari para hamba-Nya.
"Merekalah kelompok manusia yang paling berat ujiannya. Siksaan manusia terhadap mereka, lebih cepat berjalannya dari pada air mata. Cukuplah, contoh kisah yang disebutkan tentang perjuangan para Anbiya alaihimus salam bersama ummat mereka, juga perjuangan Rasulullah saw. Bagaimana siksaan musuh-musuh terhadap mereka. Siksaan berat yang belum pemah menimpa orang sebelum mereka."

Waraqah bin Naufal pemah berkata kepada Nabi saw.,"Engkau pasti akan didustai, diusir dan disiksa." Kemudian beliau bersabda: 'Tak seorangpun yang datang sebagaimana yang aku perjuangkan kecuali ia akan mengalami kondisi serupa dengan apa yang kualami."

Hukum ini berlaku hingga kepada para pewaris-pewarisnya. Tidakkah seorang hamba ridha menjadikan hamba terbaik Allah swt. sebagai uswahnya.


Pemberi Infaq yang Tidak Kikir Terhadap Da'wahnya

Sebagaimana disifatkan oleh pemimpin mereka Imam Hasan al-Banna rahimahullah: "Mereka tidak kikir terhadap da'wah, meski harus mengeluarkannya dari jatah makanan anak-anak mereka, mengucurkan darah mereka, atau harga mahal untuk kebutuhan primer. Apalagi dari kebutuhan sekunder, dan keperluan yang tidak mendesak.

Mereka, tatkala menanggung beban da'wah ini, benar-benar mengetahui bahwa ia merupakan jalan da'wah yang tidak mungkin dilalui dengan sedikit pengorbanan darah dan harta. Maka mereka keluarkan hal itu seluruhnya karena Allah swt.

Singkatnya, seorang al-akh dari mereka tengah melakukan perjalanan menuju Allah swt. bersama kelompok al-haq dan kafilah tauhid. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keyakinan besar, para pendidik, manusia yang sadar, dan berpegang teguh kepada Islam, yang sedang mempersiapkan diri dengan ilmu, keahlian untuk berangkat berjihad. Masing-masing berlomba untuk bcrangkat, dan bila mereka berangkat mereka lakukan dengan penuh itqan.

Jika mengalami situasi sulit dalam peperangan, mereka bersabar. Mereka tidak akan rela hingga da'wah mencapai tujuannya. Meskipun mereka harus memeras seluruh kemampuan dan pemikiran mereka habis- habisan.

Bila mereka memberi perintah, perintah mereka kosong dari sikap memaksa. Dan bila mereka taat kepada perintah, ketaatan mereka terlepas dari sikap merasa hina. Bila mereka melontarkan kritik, kritik mereka jauh dari perusakan dan penghancuran.

Memiliki disiplin tinggi, teratur, para murabbi, perancang strategi menuju sasaran yang jelas, orang-orang teguh pendirian, komitmen, yang bila diberi amanah sebagai pemimpin mereka lakukan dengan ikhlash, jika diposisikan sebagai prajurit, mereka lakukan dengan penuh ketaatan. Setiap masing-masing mereka mampu berpikir untuk terus meningkatkan kemampuannya secara seimbang untuk selalu berupaya mengatasi masalah yang dilihatnya, mengambil hukum suatu pekerjaan dan aktivitas dari pikirannya. Mereka merasa bertanggung jawab untuk membela Islam. Puas dengan jumlah yang sedikit.
Dalam jiwa mereka terdengar sebuah prinsip yang begitu indah, “Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat." (QS. ash- Shaff: 13)

Betapa mereka bekerja keras di waktu siang, betapa indahnya lantunan "seruling" mereka, yang mereka ambil dari keluarga Daud pada waktu sahur. Kemudian saat mereka berhadapan dengan orang yang bengis dan keras, perkataan mereka adalah:
“Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (QS. Shaad: 11)

Mereka bertolak ke arah yang jelas, bergerak bersama sikap komitmen dengan ketaqwaan. Sumpah setia mereka sejati, ketaatan mereka bukan keterpaksaan tapi kesadaran, pandangan mereka penuh prhitungan, wawasan pemikiran mereka luas dan tidak sempit.

Masing-masing berprinsip menjadi pendukung setia terhadap pemimpinnya, cita-cita mereka adalah bertemu dengan Rabb sebagai syuhada. Mereka memandang tanggung jawab syari'at sebagai penyejuk mata, penyenang hati, penghidup ruh, mencampakkan sistem thagut dan undang-undang yang bathil.

Para rijal yang selalu memerangi kehendak nafsu mereka. Hati mereka rindu pada ketaqwaan, merasa tenang dengan dzikir. Mereka mengetahui bahwa jihad adalah aplikasi kerahbaniyahan Islam. Karenanya mereka persiapkan diri dengan senjata, dan mereka hunus pedang, mereka bentangkan busur.

Mereka mengetahui bahwa arwah mereka akan kembali diantara penghuni kubur, mereka tinggalkan bangunan dunia, semangat mereka meninggi dan prilaku mereka menjadi lurus. Mereka adalah junudullah (tentara Allah) di manapun berada.

Mereka adalah para imam, pemberi petunjuk, dan pemimpin kaum beriman. Mata mereka sering terjaga di waktu malam, dan mata mereka kerap mengucurkan air mata. Berbahagialah orang yang berada dan berpegang teguh bersama mereka.

Para rijal yang komitmen dengan seruan Rasulullah saw, secara bathin dan zahir. Mereka berpendirian sebagaimana Rasul berpendirian. Mereka berjalan sebagaimana Rasul berjalan. Mereka ridha dengan keridhaan Rasul. Menyambut seruannya bila Rasul menyeru mereka.
Landasan madzhab mereka adalah al-Qur'an dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu, bid'ah, berpegang teguh dengan para imam dan berqudwah pada para salaf. Meninggalkan perbuatan bid'ah, berpendirian diatas apa yang ditempuh para generasi awwalun dari para sahabat, pembela Islam, sumur keimanan, inti sikap ihsan.

Pengetahuan mereka murni mengambil dari misykat wahyu dan hadits Rasulullah saw.
Para rijal yang meyakini bahwa mempelajari ilmu ikhlash karena Allah dapat melahirkan khasyiah (ketakutan), sehingga menuntut ilmu merupakan ibadah, mudzakarah mereka adalah tasbih, pembicaraan mereka adalah tentang "jihad" .Mereka menuntut ilmu hingga terkuaklah hijab yang menyelimuti hati mereka, sirna kegelapannya, berganti dengan fajar tauhid dan terpancar di dalamnya matahari keyakinan.

Jalan di hadapan mereka menjadi terang benderang, malamnya laksana siang. Hati dan jiwa mereka bangkit memperoleh al-Haq, dan meninggalkan selain-Nya.
Terlepas dari semua iradah mereka. Yang terpatri dalam hati mereka hanya bara khasyiyah yang membakar. Kerahasiaan mereka berhias al-haq, dan ‘alaniyah (keterbukaan) mereka terhias oleh akhlaq.

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Nasihat Ibrahim Bin Adham

Sabili No.1 Th.IX

Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara'nya, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang di antara mereka bertanya, "Wahai Guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak dikabulkan?"


Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata, "Saudara sekalian. Ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah. Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, kalian membaca Al-Quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya. Ketiga, kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya. Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya. Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surga. Keenam, kalian takut dimasukkan ke dalam neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka. Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya. Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri. Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmat-Nya. Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa."

Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis.

Dalam kesempatan lain Ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seseorang bertanya kepadanya. Ibrahim menjawab, "Saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat Allah mengadili semua makhluk di Padang Mahsyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup di dunia."

Sunday, November 8, 2009

Triger untuk sebuah Kebaikan

Sudah merupakan hal yang lazim untuk seorang manusia menghambakan kehidupannya hanya untuk beribadah, karena hal itu jelas instruksi langsung yang Alloh turunkan dalam Alquran. Dan beruntunglah bagi seorang muslim karena setiap aktifitas yang dilakukannya bisa bernilai ibadah kepada Alloh SWT. Asalkan dia memenuhi syaratnya, dan syaratnya pun cukup sederhana, yaitu dengan mengawali semua aktifitas yang akan dia lakukan disertai dengan niat beribadah kepada Alloh, maka insya alloh aktifitasnya walaupun aktifitas sosial sekalipun akan tetap bernilai ibadah.

Tapi, suatu keunikan pula pada diri seorang manusia. yaitu didalam dirinya terkadang dihinggapi oleh oleh suatu perasaan yang sebetulnya bukan hal baik baginya, perasaan yang dapat menunda-nunda suatu aktifitas yang biasa disebut dengan rasa malas. Perasaan ini dapat berdampak luar biasa baginya. Kehidupannya bisa semberawut hanya karena menuruti rasa malas. Terkadang kita merasa berat untuk memulai suatu aktifitas akibat menuruti rasa malas ini, padahal sebenarnya itu baik bagi kita. sampai-sampai aktifitas itu tidak dilaksanakan.

Kalau saja kita tahu dan faham tentang nilai dari aktifitas tersebut maka keberanian untuk memulai pun akan muncul. Disinilah pembuktian siapa sesungguhnya yang menguasai hati seorang anak manusia, ruh atau nafsu yang lebih dominan dalam dirinya? sebab jika ruh yang lebih mondiminasi, perasaan enggan untuk memulai pun akan mudah diantisipasi bahkan ketika selesai mengerjakan suatu aktifitaspun dia akan mencari atau membuat aktifitas baru yang bermanfaat bagi dirinya maupun keluarga dan lingkungannya, sampai ada suatu prinsip bagi mereka yang berbunyi "Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia ". itulah ketika hati dikuasai oleh rasa penghambaan yang melekat.

Tetapi, lain halnya kalau nafsu yang mendominasi, dia malah akan membisikan "Santai saja, waktu yang tersedia masih banyak.." sehingga diri kita akan terlena dengan perasaan santai tersebut. Dan ketika sadar ternyata banyak urusannya tang belum ditunaikan sedangkan waktu yang tersedia semakin mepet dia akan kepanikan sehingga muncul pikiran-pikiran jahat untuk menghalalkan segala cara guna menyelesaikan urusan atau mencapai tujuannya. Dia tidak sadar bahwa salah satu hal yang membuat manusia lalai adalah waktu senggang. Nah inilah yang membedakan kualitas seseorang, Dikasih modal berupa waktu yang sama tapi hasil yang dia peroleh berbeda bahkan bisa jadi sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang memanfaatkan waktu luangnya untuk menjalani proses guna mencapai tujuannya.

Kadang ada orang bertanya : bagaimana cara memunculkan keberanian untuk memulai tadi?. sebenarnya kalau kita perhatikan, keberanian merupakan efek yang muncul karena adanya semangat, semangat muncul karena adanya azzam, sedangkan azzam itu muncul karena kekuatan hati. Dan kekuatan hati akan ada kalau hati itu selalu di rawat dengan baik, maka tepat sekali apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging yang apabila daging ini baik maka akan baik pula bagian tubuh lainnya dan begitu pula sebaliknya ketika segumpal daging ini rusak atau jelek maka jelek pula yang lainnya.

Ternyata unsur yang sangat mendasar dalam diri seorang manusia terletak pada segumpal daging yaitu hati, sehingga hati ini bisa disebut dengan triger atau pemicu untuk suatu perbuatan. Dan baik buruknya seseorang berasal dari keadaaan hatinya. oleh karena itulah sahabat.., mari kita jaga dan rawat baik-baik titipan Alloh ini. jangan sampai kita melupakan hal ini, jangan sampai hati kita kotor karena kelalaian kita memelihara dan merawatnya. "sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" begitulah kata Alloh dalam surat 91:9-10.

Waspadalah sebab hati manusia pun tidak hanya dipengaruhi dari faktor internal saja (yaitu ruh dan nafsu tadi) tetapi lingkungan juga memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap kebersihan hati kita. Hati manusia pun tidak seperti katalis yang ketika bereaksi dia ikut bereaksi tetapi dia tetap utuh sebagai katalis tapi hati jauh berbeda dari itu, hati ketika sudah dicemari oleh sesuatu dia akan sulit dinetralkan. Bahkan hal-hal sederhana dalam diri kita pun dapat berpengaruh kepada hati kita, sebagai contoh : dalam salah satu haditsnya rasul pernah menyampaikan "hindarilah tertawa yang terbahak-bahak, karena hal itu dapat mengeraskan hati". hal ini jelas berpengaruh, sebab bisa kita rasa dan bayangkan ketika seseorang tertawa terbahak-bahak dengan bebasnya dia terbebas dari semua urusan bisa dikatakan dia terlepas dari segala kesadaran. sehingga hal tersebut tidak memberikan inputan apapun terhadap hatinya kecuali membuatnya semakin keras.

Mari kita hiasi hati kita dengan tanaman-tanaman yang harum baunya
yang dapat memberikan manfaat kepada diri dan rekan terdekat kita,
Kemudian menarik perhatian sang kupu-kupu untuk hinggapi di atasnya.
dan ingat...

Pandangan mata selalu menipu pandangan akal selalu bersalah
pandangan nafsu salah melulu pandangan mati itu yang hakiki
kalau hati itu bersih

Friday, November 6, 2009

Belajar Dari Penyelam

Seorang yang akan menyelam dalam waktu yang relatif lama untuk mengambil mutiara, pasti membutuhkan berbagai persiapan untuk mengoptimalkan penyelamannya, dari mulai tabung oksigen, pakaian selam sampai sepatu katak harus dia siapkan. Tapi, ingat bukan hanya itu kesadaran penuh pun dibutuhkan disini supaya dia bisa betul-betul memanfaatkan jumlah oksigen pada tabung yang di gendongnya.

Ketika semua persiapan sudah lengkap, dia menceburkan dirinya ke dalam air dengan teknik tertentu dan ketika berada di dalam air pun dia harus berenang sesuai dengan ketentuan sebab banyak peralatan yang dibawanya. selain itu kesadaran pun lagi-lagi dibutuhkan disini, supaya waktu yang dimilikinya betul-betul dimanfaatkan untuk mengambil mutiara. Jangan sampai dia malah asyik menikmati keindahan dasar laut, tanpa menyadari jatah oksigen yang dimilikinya semakin berkurang, Bahkan ketika mengambil mutiara pun harus hati-hati jangan sampai ada organisme lain yang terganggu.


Begitupun hidup kita, Alloh telah memberikan berbagai macam modal kepada kita. yang kita peroleh ketika sebelum lahir ke dunia ini, bahkan sampai saat ini setiap hari, setiap jam dan setiap detik kita memperoleh nikmat-nikmat tersebut. Tapi jangan sampai kita malah lupa dengan tujuan kita dan malah terlena dengan gemerlap kehidupan dunia yang hanya sementara ini.

Manfaatkan baik-baik semua potensi atau kenikmatan yang Alloh berikan ini sesuai dengan perintah Sang Pemberi Modal yaitu untuk menghambakan diri kita kepada Alloh SWT, atau dalam istilah lainnya tujuan lain kita di "ceburkan" ke alam dunia ini adalah untuk beribadah kepadaNYA.

Jaga terus kesadaran kita akan hal tersebut dengan senantiasa merawat semua modal yang Alloh berikan. Potensi tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar, yaitu potensi yang Alloh berikan kepada kita semenjak kita lahir ke dunia yakni hati, akal dan jasad. sedangkan potensi lainnya adalah kenikmatan yang senantiasa Alloh berikan kepada kita setiap saat. Jangan tunda-tunda dan terlalu sering lirik kanan-lirik kiri, tapi fokuslah pada tujuan kita sesungguhnya.

Adapun cara yang sangat ampuh untuk merawat kesadaran kita tersebut adalah dengan seringnya mengingat kepulangan kita, rindukanlah kepulangan kita tersebut. sebab setiap orang ketika pergi ke suatu tempat pasti dia akan rindu terhadap kampung halamannya, seberapa jauhpun dia merantau dia akan senantiasa mengingatnya bahkan kembali ke tempat tersebut. begitupun hidup kita suatu saat nanti kita akan pulang menghadap pemilik diri kita.

Penyelampun ketika tujuan nya mengambil mutiara telah tercapai dan kadar oksigen yang dibawanya sudah mau habis, dia akan kembali ke permukaan dan menghentikan penyelamannya. Tapi, bedanya kita dengan penyelam. kalau penyelam mengetahui batas keberadaannya di dalam air dengan memperhatikan kapasitas oksigen yang dibawanya, tapi kita tidak tahu kapan akhir dari petualangan kita menyelami samudera kehidupan ini.

wallohu'alam